Pukul Dua Dini Hari

“Kring…kring…kring…”
“Kring…kring…kring…”
“Kring…kring…kring…”

Ponsel di samping bantal berteriak nyaring. Aku lupa lagi mematikan alarmnya, padahal aku sudah tidak membutuhkan alarm pukul dua dini hari. Dulu, sewaktu belum dapat kerja, aku sering bangun pukul dua untuk shalat malam. Sudah seminggu ini aku tidak shalat malam. Aku bangun hanya untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi.

Tapi kali ini, aku kesulitan memejamkan mataku lagi. Aku menyalakan televisi di depanku. Mungkin aku bisa mengantuk kalau menonton acara TV. Wah, jam segini masih banyak film asing ternyata. Tapi filmnya sudah keseringan diputar. Aku memencet remote TV lagi sampai menemukan yang aku suka. Ada channel baru ternyata. Namanya “Hikmah TV” dan acara yang ditayangkan adalah FTV. Baiklah, aku memutuskan menonton ini saja.

Judul filmnya “Andina”. Ceritanya tentang seorang gadis SMU bernama Andina, yang harus bekerja sebagai loper koran di pagi hari dan pelayan warung makan di sore hari. Filmnya cukup bagus dan menyentuh, sehingga tanpa sadar aku menitikkan air mata. Film sudah selesai, tapi aku masih belum mengantuk juga. Akhirnya aku putuskan untuk shalat malam. Setelah shalat entah kenapa aku jadi mengantuk. Kupasang alarm pukul lima agar tidak terlewat shalat subuh, lalu akupun terlelap.

***

“Permisi…koran kak…”
“Oh iya, sebentar,” sahutku sambil menaruh sapu yang tadi kupegang. Aku berlari mengambil koran dari tangan loper koran itu. “Terima kasih ya,” aku tersenyum sambil memandang wajah loper koran itu dan aku terkejut. Wajah loper koran itu, mirip sekali dengan pemeran Andina, di film yang aku tonton dini hari tadi.
“Kenapa kak?” tanya gadis di hadapanku dengan wajah heran.
“Nama kamu siapa?”
“Andina, kak”
“Andina? Itu nama asli kamu?”
“Ha? Iya dong, kak. Masa nama palsu, hehehe,” gadis itu tertawa geli.
“Kamu pernah main film?” tanyaku.
“Enggak tuh, kak”
“Yang bener?”
“Iyaa bener…ngapain saya bohong, kak,” jawab Andina sambil memegangi korannya. “Kak, saya pamit dulu ya, masih banyak koran yang harus diantar,” dia berlari dan menaiki sepedanya.
“Iya iya, maaf ya,” sahutku dengan muka menyesal, karena telah mengganggu pekerjaannya.
“Nggak apa-apa kak, permisi,” Andina tersenyum lalu mengayuh sepedanya dengan terburu-buru.

Aku masih terpaku di pagar rumahku. Tidak mungkin kalau semalam hanya mimpi. Aku yakin sekali kalau film yang aku tonton itu berjudul “Andina” dan wajahnya mirip dengan Andina, loper koran tadi. Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Ah, sudahlah. Hari ini banyak yang harus aku kerjakan. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu.

***
“Kring…kring…kring…”
“Kring…kring…kring…”
“Kring…kring…kring…”

Lagi-lagi aku lupa mematikan alarmnya. “Astagfirullah…” aku terkejut dan langsung melihat jam yang ada di dinding, untuk memastikan aku tidak salah lihat.
Sekarang tepat pukul dua dini hari, padahal kemarin aku memasang alarmku untuk berbunyi pukul lima pagi. Jantungku berdegup kencang sekali. Ada apa ini? Aku bangun dan meminum air yang ada di meja sebelah tempat tidur.

Setelah agak tenang, aku memutuskan untuk shalat malam. Saat akan kembali tidur, tiba-tiba aku teringat acara TV dini hari kemarin. Aku langsung menyalakan TV dan mencari “Hikmah TV”. FTV lagi. Kali ini judulnya “Pengamen Tua”. Nama pengamen itu Pak Parji. Sayang sekali, film belum selesai aku sudah ketiduran.

“Bengawan Solo…riwayatmu kini…” terdengar suara pengamen di luar rumahku. Aku mematikan kompor dan mengambil uang receh yang ada di dekat TV. Mataku terbelalak tak percaya saat menyerahkan uang ke pengamen tersebut.
“Terima kasih…” ucap pengamen tersebut, lalu pergi.
“Pak, siapa nama bapak?” tanyaku dengan terburu-buru.
“Parji, mbak,” jawab pengamen itu.
“Astaghfirullah…” aku memegang pagar kuat-kuat, karena merasa pusing.
“Mbak, kenapa mbak?”
“Eh…enggak, pak. Makasih,” aku berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu.
****
Pukul dua dini hari…

Alarm berbunyi lagi, aku bangun untuk shalat malam, menonton televisi dan ketiduran di tengah-tengah film. Kemudian siangnya bertemu dengan tokoh dalam film yang aku tonton dini hari tadi. Selama beberapa hari terjadi seperti itu. Awalnya aku ketakutan, tapi lama kelamaan aku nikmati saja. Berkat itu aku jadi rutin shalat malam lagi, sampai suatu hari aku tidak menemukan “Hikmah TV” di channel manapun. Aku cuma tersenyum, dan tetap memasang alarm pukul dua dini hari.

Pukul Dua Dini Hari