Alunan Melodi di Sudut Cafe

Selalu di tempat itu. Dia, selalu menunggu kekasihnya di kursi paling pojok. Ditemani segelas Vanilla Latte dan sepotong Raisin Cake, dia tenggelam dalam penantian. Sudah hampir satu jam, hingga ceria di wajahnya mulai berubah menjadi muram.

Aku menjadi sedih bila dia bersedih. Sungguh, rasanya seperti ada yang hilang saat senyumnya meredup padam. Ah, betapa bodohnya aku! Mengapa tak kunyanyikan sebuah lagu yang indah agar manis senyumnya mengembang? Dan aku mulai beraksi, berusaha mengalunkan melodi nan indah untuk menarik perhatiannya, dan hei, berhasil! Dia menoleh ke arahku. Membuat jantungku berdegup kencang dan seperti ingin keluar. Dia menoleh dan memberiku senyuman termanisnya. Aku menjadi tersipu dibuatnya, dan membuatku melanjutkan melodi dengan penuh suka cita.

Dan saat – saat indah itu kemudian berakhir, saat lelaki yang ditunggunya datang. Gadis itu langsung berdiri dan menyambut kekasihnya dengan senyum lebar dan mata berbinar – binar.

Perhatian gadis itu teralihkan, melupakan lantunan indah yang tadi kulagukan. Tapi, apalah aku ini. Yang bisa kulakukan memang hanya melantunkan melodi – melodi dan memandanginya dari kejauhan, karena aku hanyalah piano tua di sebuah sudut cafe di kota lama.

Alunan Melodi di Sudut Cafe

aku. benci. diriku. sendiri

Jika ditanya, “siapa orang yang paling kamu benci di dunia ini?”
Saya dengan mudah dan tegas akan menjawab, “diri saya sendiri!”

Ya, akhir-akhir ini saya merasa benci pada diri saya sendiri. Saya benci diri saya yang lemah, yang terlalu mudah menganiaya pikiran dan hati saya sendiri. Saya terlalu mudah membenci seseorang, yang bahkan belum saya kenal. Saya merasa rendah dan buruk dalam waktu bersamaan.

Saya menyadari sepenuhnya kalau saya hanyalah manusia yang imannya masih lemah. Tapi sungguh, saya tidak ingin membenci dan menyakiti siapapun. Semuanya hanya saya simpan dalam hati. Saya tidak ingin membagi kebencian ini dengan siapapun.

Hanya Allah yang tahu isi hati dan pikiran saya yang sebenar-benarnya. Hanya kepada-Nya saya bisa menceritakan semua yang saya rasakan. Semoga suatu hari nanti, saya bisa mencintai diri saya sendiri, seperti saya mencintai orang tua, saudara, sahabat, dan laki-laki yang saya cintai. Semoga…dan saya yakin saya bisa. :’)

aku. benci. diriku. sendiri

You Know You’re in Love When…

In Between

… cheesy love songs finally make sense.

… every little thing (s)he does draws a smile on your face.

… it turns you from a bitter person into a better one.

… you tear down every wall you’ve built though you know it will leave you unprotected.

… you start listening to your feelings, and eventually, your heart.

… you stop playing games and jut let things happen.

… you just don’t care about rules, terms and conditions anymore.

… you’re willing to sacrifice precious sleeping hours just to talk with him/her.

… you look into each other’s eyes and the universe slowly fades away.

 

Last but not least,

When you’re in love…

…you just know.

 

And that’s how I know that I love you. Yes, you.

View original post

You Know You’re in Love When…

Separuh Jiwa (?)

Berawal dari membaca tweet seseorang, saya menjadi sedikit memahami arti “separuh jiwa”, yang digunakan untuk menyebut pasangan hidup dan pemilik hati kita. Bahwa sesungguhnya pasangan kita itu yang melengkapi kita. Membuat kita merasa utuh. Tidak seharusnya berpasangan hanya untuk membunuh kesepian semata.

Dan saya juga menyadari, bahwa selama ini saya begitu kesepian dan bukan jatuh hati. Tapi bukankah manusiawi kalau kita merasa kesepian? Adakah orang yang tidak pernah merasakannya? Apakah salah, kalau kita memanfaatkan orang lain untuk melawan kesepian? Memanfaatkan rasa sayang orang tersebut kepada kita? Sementara kita menunggu “separuh jiwa” yang bisa membuat kita merasa utuh. Bukan hanya seseorang yg dapat menemani di setiap kesepian kita.

Tapi pernahkah kita berpikir, kalau mungkin saja, dia yg menemani setiap kesepian kita, adalah “separuh jiwa” kita. Ternyata dia begitu dekat dan kita tidak tahu…

Separuh Jiwa (?)

40 Menit 56 Detik

Malam itu, pukul 21.48 kamu meneleponku, dan kita berbincang selama 40 menit 56 detik. Cukup lama untuk percakapan antara dua orang yang belum terlalu lama kenal. Tapi tidak cukup lama untuk sepasang kekasih (pengalaman pribadi). 🙂

Sejujurnya aku agak terkejut membaca namamu terpampang di layar ponselku. Sudah lebih dari dua minggu setelah telepon terakhirmu. Aku pikir kamu sudah lupa punya “kenalan” bernama Isna. :p
Katamu, kamu masih di kantor. Aku sedikit terkejut karena jam segitu kamu masih di kantor. Ternyata kamu menginap disana. “Aku sambil makan ya,” katamu saat itu, dan mulailah kita berbincang.

Aku tidak terlalu ingat apa saja yang kita bicarakan. Kita bercerita banyak hal. Ada dua hal yang sangat aku ingat. Yang pertama, aku menegurmu dengan bercanda saat kamu bersendawa. Reaksimu membuatku sedikit tidak enak hati. Kamu minta maaf berkali-kali karena menurutmu kamu “kurang ajar”. Padahal aku hanya bercanda. Aku penasaran, sebenarnya kamu minta maaf untuk apa. Apa kamu merasa punya salah padaku? Entahlah…biarkanlah itu jadi misteri saja. 🙂

Yang kedua, kamu bertanya kenapa aku belum menikah. Itu pertanyaan yang paling menyebalkan dan terlalu sering aku dapatkan. Tapi aku tidak merasa jengkel saat kamu menanyakannya. Aku hanya merasa heran saja, kenapa kamu bertanya seperti itu. Padahal kamu sendiri belum menikah dan setahuku belum punya calon istri. *tersenyum manis*

Aku sempat bingung mau menjawab apa, karena aku sedang malas menjawab panjang lebar masalah itu. Aku hanya menjawab “nggak tahu”
Katamu, mungkin karena aku galak pada para lelaki yang mendekatiku. Aku tertawa dan menjawab “enggaklah…”
Karena sebenarnya aku lemah pada laki – laki yang baik dan perhatian. Ya, aku suka diperhatikan. Tapi, wanita mana yang tidak suka diperhatikan. Alasanku sebenarnya adalah karena selama ini hampir semua laki – laki yang mendekatiku, tidak ada yang serius. Aku tidak merasakan ketulusan, cinta, dan keseriusan mereka dalam menjalin hubungan. Tidak ada yang berani menghadap orang tuaku. Hanya lelaki pilihan ibuku yang berani melakukannya, tapi sayangnya aku tidak merasa cocok dengan lelaki tersebut. Well, tadinya aku tidak ingin mengungkapkannya, tapi sekarang kamu jadi tahu, kan? 🙂

Intinya aku menunggu. Menunggu lelaki yang serius ingin meminangku dan tentunya harus yang membuatku nyaman. Apa aku hanya menunggu? Tentu tidak. Aku juga berusaha. Tapi bagaimanapun aku berusaha, keputusan ada di tangan lelaki. Tidak mungkin kan, aku yang datang melamar calon suamiku nantinya.

Lalu aku bertanya padamu, “gantian nih aku tanya. Kalau kamu, kenapa kamu belum nikah?”
Kamu hanya tertawa pelan dan berkata kalau bingung harus menjawab apa. Dan kemudian aku menjawabnya untukmu. Aku merasa kamu juga sedang menunggu. Aku tahu (atau mungkin saja sok tahu) kalau kamu sedang menunggu jawaban dari wanita pilihanmu. Lagi – lagi kamu hanya tertawa.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah benar tebakanku? Jika iya, pada akhirnya kita sama – sama saling menunggu. Sudah berapa lama kamu menunggu? Mau sampai kapan kamu menunggu? Aku doakan semoga penantianmu tidak sia – sia. Karena, jika hatimu terluka, ada hati yang terluka juga disini. Entah karena rasa sayang atau hanya kasihan, aku sendiri juga tidak tahu.

Semoga, saat kita pada akhirnya dapat bertemu, kita dapat berteman. Bukan hanya sekedar “kenalan” seperti yang aku katakan malam itu. Dan aku bukan hanya sekedar “pelarian” karena wanita pilihan hatimu itu mengacuhkanmu. *tersenyum dengan anggun*

*teruntuk kamu, yang telah sedikit mengisi ruang di hatiku*

40 Menit 56 Detik

18 Januari 2013 yang tak terlupakan

Pagi itu, hujan turun deras sekali. Saya memakai jas hujan dan bersiap berangkat ke kantor. Sebelum memakai helm, saya memastikan penutup kepala jas hujan terpasang dengan benar. Saat di depan kaca, saya melihat wajah saya agak pucat. Dan entah kenapa tiba-tiba saja terbersit pemikiran, kalau saat meninggal nanti, wajah saya pasti seperti ini. Tapi kemudian saya tertawa kecil, memulas lipstik, dan segera berangkat ke kantor.

Seperti biasanya, lalu lintas cukup padat karena banyaknya orang yang berangkat kerja. Semuanya lancar, sampai tiba-tiba ada pengendara motor yang mendahului saya dari sebelah kanan. Karena motornya terlalu mepet dengan motor saya, spion kanan motor saya tersangkut jas hujan orang tersebut, dan jatuhlah saya ke aspal yang keras. Saya tidak terlalu ingat kronologisnya, tapi saya merasakan ada motor yang lewat di atas kepala saya. Keadaan saya saat itu tengkurap di aspal, karena terlempar dari motor sejauh kira-kira satu meter. Saya tidak bisa bergerak sampai ada seorang ibu yang membantu saya untuk bangun dan berjalan ke pinggir. Orang-orang, termasuk pengendara motor yang menyebabkan saya jatuh, berkerumun di sekitar saya. Mereka bertanya bagaimana kondisi saya, apa ada yang sakit, dan sebagainya. Saya merasakan nyeri di punggung tangan kanan, siku kiri, dan paha kanan. Ternyata jas hujan saya robek di bagian siku kiri, sehingga siku saya berdarah. Punggung tangan kanan lecet-lecet dan paha dan betis kanan nyeri, yang ternyata terkilir. Kerusakan motor, spion kanan lepas dan footstep bengkok. Tapi diatas semuanya, yang membuat saya masih bisa bersyukur adalah, saya masih hidup. Dan tiba-tiba, saya teringat kilasan kejadian sewaktu berkaca di rumah. Mungkin itu semacam firasat.

Tapi apapun itu, saya harus mengucap syukur alhamdulillah. Allah SWT masih memberi kesempatan saya untuk beribadah lebih baik lagi, memperbaiki kesalahan-kesalahan, dan menebus dosa-dosa saya yang banyak ini.

Ah…lega sekali sudah menuliskan pengalaman saya ini. Semoga ini bisa menjadi pengingat, terutama untuk diri saya sendiri, bahwa kematian sangatlah dekat dan janganlah menyia-nyiakan hidup yang diberikan Tuhan kepada kita.

18 Januari 2013 yang tak terlupakan

Cuti Sakit Hati

“Emma, kamu percaya sama aku kan? Aku sayang kamu. Ini demi kita juga,” Mas Tian memeluk tubuh dan mengelus rambutku.
“Iya,” aku mengusap air mata yang mulai muncul di pelupuk mataku. “Mas Tian jaga diri ya,”
Aku melepas kepergian calon suamiku untuk bekerja di Lampung. Ini semua demi masa depan kami. Dia bilang ingin memiliki rumah dulu, sebelum menikahiku.

***

Sudah satu tahun, aku dan Mas Tian menjalani hubungan jarak jauh dan sudah satu bulan ini, Mas Tian tidak meneleponku. Hanya sekali saja datang sms darinya, yang isinya permintaan maaf jika sebulan ini akan jarang menghubungiku karena sibuk.

“Hayoo..ngelamunin apa..?” Kanthi menepuk pundakku cukup keras.
“Iihh…kamu ngagetin aja,” aku merengut dan mencubit tangannya.
“Abisnya kamu aneh sih, akhir-akhir ini. Udah coba telpon Mas Tian?”
“Hari ini belum. Aku takut ganggu pekerjaannya dan takut dia marah”
“Hemm…susah juga ya. Sabar ya neng…”
Aku hanya tersenyum.
“Oh iya, ikut ke Solo yuk besok Minggu. Sahabatku mau nikah. Undangannya lucu, lihat deh,” Kanthi meletakkan undangan pernikahan di mejaku.
Undangannya bagus sekali. Berbentuk seperti diary yang berisi biodata dan kisah cinta kedua mempelai. Manis sekali.

Tapi tiba-tiba jantungku berdegup kencang sekali. Rasanya seperti mimpi saat membaca nama mempelai pria dan melihat fotonya. Bastian Dwiputra, demikian nama mempelai prianya, yang ternyata adalah Mas Tian, calon suamiku. “Thi…ini…ini Mas Tian, Thi…”
Kanthi mengambil undangan dari tanganku. “Yang bener, Ma? Kok bisa gini? Aku baru satu kali ketemu, jadi nggak hafal wajahnya”
“Iya, aku yakin itu dia. Jadi ini alasannya, kenapa sebulan ini dia nggak pernah hubungin aku,” aku mulai terisak-isak. Kanthi mencoba menenangkanku, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

***

Kedua mataku perih sekali, rasanya seluruh air mata yang ada sudah kutumpahkan. Aku tidak habis pikir, kenapa Mas Tian tega melakukan ini padaku. Aku mencoba menghubungi ponselnya, tapi nomornya sudah tidak aktif. Pupus sudah semua harapanku. Kupandangi gelas yang ada di meja. Hanya perlu beberapa teguk dan aku tidak akan merasakan sakit hati lagi. Aku ingin istirahat sebentar, sebentar saja.

Cuti Sakit Hati