Alunan Melodi di Sudut Cafe

Selalu di tempat itu. Dia, selalu menunggu kekasihnya di kursi paling pojok. Ditemani segelas Vanilla Latte dan sepotong Raisin Cake, dia tenggelam dalam penantian. Sudah hampir satu jam, hingga ceria di wajahnya mulai berubah menjadi muram.

Aku menjadi sedih bila dia bersedih. Sungguh, rasanya seperti ada yang hilang saat senyumnya meredup padam. Ah, betapa bodohnya aku! Mengapa tak kunyanyikan sebuah lagu yang indah agar manis senyumnya mengembang? Dan aku mulai beraksi, berusaha mengalunkan melodi nan indah untuk menarik perhatiannya, dan hei, berhasil! Dia menoleh ke arahku. Membuat jantungku berdegup kencang dan seperti ingin keluar. Dia menoleh dan memberiku senyuman termanisnya. Aku menjadi tersipu dibuatnya, dan membuatku melanjutkan melodi dengan penuh suka cita.

Dan saat – saat indah itu kemudian berakhir, saat lelaki yang ditunggunya datang. Gadis itu langsung berdiri dan menyambut kekasihnya dengan senyum lebar dan mata berbinar – binar.

Perhatian gadis itu teralihkan, melupakan lantunan indah yang tadi kulagukan. Tapi, apalah aku ini. Yang bisa kulakukan memang hanya melantunkan melodi – melodi dan memandanginya dari kejauhan, karena aku hanyalah piano tua di sebuah sudut cafe di kota lama.

Advertisements
Alunan Melodi di Sudut Cafe

6 thoughts on “Alunan Melodi di Sudut Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s