40 Menit 56 Detik

Malam itu, pukul 21.48 kamu meneleponku, dan kita berbincang selama 40 menit 56 detik. Cukup lama untuk percakapan antara dua orang yang belum terlalu lama kenal. Tapi tidak cukup lama untuk sepasang kekasih (pengalaman pribadi). 🙂

Sejujurnya aku agak terkejut membaca namamu terpampang di layar ponselku. Sudah lebih dari dua minggu setelah telepon terakhirmu. Aku pikir kamu sudah lupa punya “kenalan” bernama Isna. :p
Katamu, kamu masih di kantor. Aku sedikit terkejut karena jam segitu kamu masih di kantor. Ternyata kamu menginap disana. “Aku sambil makan ya,” katamu saat itu, dan mulailah kita berbincang.

Aku tidak terlalu ingat apa saja yang kita bicarakan. Kita bercerita banyak hal. Ada dua hal yang sangat aku ingat. Yang pertama, aku menegurmu dengan bercanda saat kamu bersendawa. Reaksimu membuatku sedikit tidak enak hati. Kamu minta maaf berkali-kali karena menurutmu kamu “kurang ajar”. Padahal aku hanya bercanda. Aku penasaran, sebenarnya kamu minta maaf untuk apa. Apa kamu merasa punya salah padaku? Entahlah…biarkanlah itu jadi misteri saja. 🙂

Yang kedua, kamu bertanya kenapa aku belum menikah. Itu pertanyaan yang paling menyebalkan dan terlalu sering aku dapatkan. Tapi aku tidak merasa jengkel saat kamu menanyakannya. Aku hanya merasa heran saja, kenapa kamu bertanya seperti itu. Padahal kamu sendiri belum menikah dan setahuku belum punya calon istri. *tersenyum manis*

Aku sempat bingung mau menjawab apa, karena aku sedang malas menjawab panjang lebar masalah itu. Aku hanya menjawab “nggak tahu”
Katamu, mungkin karena aku galak pada para lelaki yang mendekatiku. Aku tertawa dan menjawab “enggaklah…”
Karena sebenarnya aku lemah pada laki – laki yang baik dan perhatian. Ya, aku suka diperhatikan. Tapi, wanita mana yang tidak suka diperhatikan. Alasanku sebenarnya adalah karena selama ini hampir semua laki – laki yang mendekatiku, tidak ada yang serius. Aku tidak merasakan ketulusan, cinta, dan keseriusan mereka dalam menjalin hubungan. Tidak ada yang berani menghadap orang tuaku. Hanya lelaki pilihan ibuku yang berani melakukannya, tapi sayangnya aku tidak merasa cocok dengan lelaki tersebut. Well, tadinya aku tidak ingin mengungkapkannya, tapi sekarang kamu jadi tahu, kan? 🙂

Intinya aku menunggu. Menunggu lelaki yang serius ingin meminangku dan tentunya harus yang membuatku nyaman. Apa aku hanya menunggu? Tentu tidak. Aku juga berusaha. Tapi bagaimanapun aku berusaha, keputusan ada di tangan lelaki. Tidak mungkin kan, aku yang datang melamar calon suamiku nantinya.

Lalu aku bertanya padamu, “gantian nih aku tanya. Kalau kamu, kenapa kamu belum nikah?”
Kamu hanya tertawa pelan dan berkata kalau bingung harus menjawab apa. Dan kemudian aku menjawabnya untukmu. Aku merasa kamu juga sedang menunggu. Aku tahu (atau mungkin saja sok tahu) kalau kamu sedang menunggu jawaban dari wanita pilihanmu. Lagi – lagi kamu hanya tertawa.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah benar tebakanku? Jika iya, pada akhirnya kita sama – sama saling menunggu. Sudah berapa lama kamu menunggu? Mau sampai kapan kamu menunggu? Aku doakan semoga penantianmu tidak sia – sia. Karena, jika hatimu terluka, ada hati yang terluka juga disini. Entah karena rasa sayang atau hanya kasihan, aku sendiri juga tidak tahu.

Semoga, saat kita pada akhirnya dapat bertemu, kita dapat berteman. Bukan hanya sekedar “kenalan” seperti yang aku katakan malam itu. Dan aku bukan hanya sekedar “pelarian” karena wanita pilihan hatimu itu mengacuhkanmu. *tersenyum dengan anggun*

*teruntuk kamu, yang telah sedikit mengisi ruang di hatiku*

Advertisements
40 Menit 56 Detik

10 thoughts on “40 Menit 56 Detik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s