Cuti Sakit Hati

“Emma, kamu percaya sama aku kan? Aku sayang kamu. Ini demi kita juga,” Mas Tian memeluk tubuh dan mengelus rambutku.
“Iya,” aku mengusap air mata yang mulai muncul di pelupuk mataku. “Mas Tian jaga diri ya,”
Aku melepas kepergian calon suamiku untuk bekerja di Lampung. Ini semua demi masa depan kami. Dia bilang ingin memiliki rumah dulu, sebelum menikahiku.

***

Sudah satu tahun, aku dan Mas Tian menjalani hubungan jarak jauh dan sudah satu bulan ini, Mas Tian tidak meneleponku. Hanya sekali saja datang sms darinya, yang isinya permintaan maaf jika sebulan ini akan jarang menghubungiku karena sibuk.

“Hayoo..ngelamunin apa..?” Kanthi menepuk pundakku cukup keras.
“Iihh…kamu ngagetin aja,” aku merengut dan mencubit tangannya.
“Abisnya kamu aneh sih, akhir-akhir ini. Udah coba telpon Mas Tian?”
“Hari ini belum. Aku takut ganggu pekerjaannya dan takut dia marah”
“Hemm…susah juga ya. Sabar ya neng…”
Aku hanya tersenyum.
“Oh iya, ikut ke Solo yuk besok Minggu. Sahabatku mau nikah. Undangannya lucu, lihat deh,” Kanthi meletakkan undangan pernikahan di mejaku.
Undangannya bagus sekali. Berbentuk seperti diary yang berisi biodata dan kisah cinta kedua mempelai. Manis sekali.

Tapi tiba-tiba jantungku berdegup kencang sekali. Rasanya seperti mimpi saat membaca nama mempelai pria dan melihat fotonya. Bastian Dwiputra, demikian nama mempelai prianya, yang ternyata adalah Mas Tian, calon suamiku. “Thi…ini…ini Mas Tian, Thi…”
Kanthi mengambil undangan dari tanganku. “Yang bener, Ma? Kok bisa gini? Aku baru satu kali ketemu, jadi nggak hafal wajahnya”
“Iya, aku yakin itu dia. Jadi ini alasannya, kenapa sebulan ini dia nggak pernah hubungin aku,” aku mulai terisak-isak. Kanthi mencoba menenangkanku, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

***

Kedua mataku perih sekali, rasanya seluruh air mata yang ada sudah kutumpahkan. Aku tidak habis pikir, kenapa Mas Tian tega melakukan ini padaku. Aku mencoba menghubungi ponselnya, tapi nomornya sudah tidak aktif. Pupus sudah semua harapanku. Kupandangi gelas yang ada di meja. Hanya perlu beberapa teguk dan aku tidak akan merasakan sakit hati lagi. Aku ingin istirahat sebentar, sebentar saja.

Advertisements
Cuti Sakit Hati

2 thoughts on “Cuti Sakit Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s